Google
 

Rabu, 10 Juni 2009

Demonstrasi dan Ekonomi Kerakyatan

Dulu saya berpikir bahwa yang namanya demonstrasi, apalagi yang sifatnya anarkhis, pasti membawa dampak negatif terhadap perekonomian nasional. Logikanya begini, dengan adanya demonstrasi yang anarkhis, para calon investor akan melihat Indonesia sebagai tempat yang sangat riskan untuk berinvestasi, sehingga demonstrasi jenis itu dapat mengurangi minat para investor, terutama investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Namun, ketika tadi saya menyaksikan langsung sebuah demonstrasi yang damai, justru saya berubah pikiran. Ternyata, demonstrasi atau aksi unjuk rasa yang dilakukan secara damai, tanpa ada tindak kekerasan dapat membawa dampak positif terhadap perekonomian, terutama entitas yang kita kenal sebagai ekonomi kerakyatan.

Ketika sebuah demonstrasi atau aksi unjuk rasa berlangsung, yang terjadi adalah pengelompokan massa dalam satu wilayah tertentu. Berkerumunnya orang-orang di tempat tertentu itu tentu menjadi “gula” bagi “para semut”. Gula yang saya maksud di sini adalah potensi profit, sedangkan para semut yang saya maksud adalah para pedagang kecil, seperti pedagang air mineral dalam kemasan, pedagang teh botol, pedagang gado-gado, pedagang tauge goreng, pedagang ketupat sayur, pedagang asongan, pedagang bak pao, pedagang es doger, pedagang siomay, pedagang bakso, pedagang mie ayam, pedagang es cing cau, hingga pedagang pulsa.

Nah, dari sini dapat kita asumsikan bahwa di sana terjadi transaksi finansial yang sangat adil. Di tempat berkerumunnya para demonstran, tentu berkerumun pula para aparat keamanan. Bayangkan, para aparat keamanan, khususnya polisi, mereka adalah subyek ekonomi dengan penghasilan tetap yang dapat dikatakan hidupnya jauh lebih mapan ketimbang para pedagang kecil tersebut. Para aparat keamanan yang haus, pasti membeli air mineral dalam kemasan, teh botol, es doger, atau es cing cau. Polisi yang lapar, mau tidak mau harus membeli salah satu menu makanan di situ, entah itu siomay, bakso, mie ayam, atau tauge goreng, sebab tidak mungkin para polisi yang sedang kelaparan itu meninggalkan area demonstrasi, menjauh dari para pedagang makanan, atau pergi ke restoran cepat saji. Sementara polisi yang kehabisan pulsa, pasti membeli pulsa pada pedagang pulsa yang ada di situ. Penghasilan mereka yang lebih banyak itu kemudian mengalir ke akun para pedagang kecil yang notabene memiliki nominal yang lebih kecil. Inilah yang saya maksud dengan transaksi finansial yang adil.

Dengan demikian, jika kita menyaksikan suatu demonstrasi atau aksi unjuk rasa berlangsung, kita tidak perlu melihatnya dengan sebelah mata apalagi memandang dengan sinis. Perlu kita sadari bahwa aksi demonstrasi merupakan salah satu karakter dalam negara demokratis, dan aksi demonstrasi yang damai dapat menjadi salah satu wujud implementasi serta pengembangan konsep ekonomi kerakyatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar