Google
 

Jumat, 24 Mei 2013

Krisis KPR di Amerika Serikat (2008)

Minggu lalu saya menikmati makan malam bersama para mitra kerja di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sambil menanti pesanan ayam bakar tiba, salah satu mitra memperkenalkan saya dengan seorang pengusaha lokal yang memiliki rumah pribadi di Florida – Amerika Serikat. Cukup bangga juga mendengarnya, ada putra daerah yang mampu merambah properti di negeri Paman Sam. Sejak sekitar lima tahun yang lalu, membeli properti di AS menjadi hal yang sangat menguntungkan. Properti (terutama rumah tinggal) menjadi tidak bernilai, harganya murah banget. Kok bisa gitu? Itu semua karena kasus krisis Subprime Mortgage. Sebenarnya saya mau menjelaskan sendiri kasus itu dengan bahasa sendiri, tapi karena sudah ada tulisan yang menurut saya bagus, dan mampu menjelaskan dengan sangat baik, maka saya putuskan saja untuk mengutip karya Matt Mardana. Berikut ini penjelasannya. 

Kamis, 10 Januari 2013

Krisis Ekonomi Argentina (1999 – 2002)

Argentina merupakan negara di Amerika Latin yang kaya sumber daya alam, memiliki sektor pertanian yang maju, dan industri yang beragam. Tahun 1980-an, negeri asal Lionel Messi ini telah menimbun utang luar negeri yang sangat besar hingga mengakibatkan hiperinflasi. Untuk mengatasi masalah hiperinflasi tersebut, pemerintah Argentina mengambil beberapa langkah strategis seperti liberalisasi perdagangan, deregulasi, dan privatisasi. Walau pun dengan kebijakan itu pada mulanya tingkat inflasi berhasil diturunkan, namun krisis ekonomi yang melanda Meksiko, Rusia, dan Brasil pada 1999 turut memberi imbas pada ekonomi Argentina. Krisis ekonomi di Argentina yang berlangsung sepanjang tahun 1999 hingga 2002 merupakan krisis yang sangat mengerikan dan menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan warga Argentina. 

Rabu, 14 Desember 2011

Krisis Rubel 1998


Pada pertengahan 1997, ekonomi Rusia menunjukkan sinyalemen peningkatan atau pertumbuhan yang positif. Namun tak lama kemudian, berbagai masalah mulai muncul.  Dua pendadakan eksternal, yakni krisis finansial Asia serta penurunan permintaan minyak mentah dan logam non besi, turut mempengaruhi penurunan jumlah cadangan devisa Rusia. Krisis finansial yang melanda Rusia pada tahun 1998 dikenal dengan istilah Krisis Rubel (mata uang Rusia). Krisis tersebut mencapai puncaknya bertepatan dengan perayaan ulang tahun proklamasi Republik Indonesia, 17 Agustus 1998. Saat itu, pemerintah Rusia melakukan devaluasi Rubel dan menyatakan tak sanggup melunasi utang-utangnya. Penurunan produktivitas, penetapan nilai tukar rubel terhadap mata uang asing yang terlalu tinggi, dan defisit fiskal kronis diduga banyak pihak sebagai latar belakang terjadinya krisis Rusia. Selain itu, biaya ekonomi perang di Chechnya yang diperkirakan telah menghabiskan dana sebesar lima milyar dolar (belum termasuk biaya pembangunan kembali ekonomi Chechnya yang hancur berantakan) juga dituduh sebagai biang kerok terjadinya krisis keuangan di Rusia. Faktor apa yang sebenarnya menyebabkan terjadinya krisis finansial di Rusia pada 1998?

Sabtu, 19 November 2011

Krisis Moneter Asia 1997

Inilah krisis yang tidak akan pernah hilang dari ingatan kita. Sungguh penderitaan yang nyata kita rasakan pada masa-masa krismon 1997. Kata-kata yang masih terus menempel dalam ingatan saya hingga saat ini adalah keluhan dari seorang kerabat yang hidup di bawah garis kemiskinan, “Sekarang kita tidak mampu lagi membeli mi instant.” Jelas mereka yang berpenghasilan Rp5.000,- per hari tak lagi mampu membeli bahan makanan yang cukup untuk empat orang anggota keluarganya, sebab harga mi instant yang biasanya hanya Rp300 tiba-tiba melonjak dahsyat menjadi Rp1.500,- per bungkusnya. Saat itu, tidak hanya orang-orang yang tinggal di Indonesia saja yang merasakan penderitaan akibat krisis ekonomi, tetapi mungkin hampir sebagian besar warga Asia turut tersiksa. Krisis yang bermula dari Thailand ini terus menjalar tak terbendung ke Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Sementara negara yang tak terpengaruh dampak krisis Asia secara signifikan adalah Brunei Darussalam, Singapura, dan Republik Rakyat Cina (RRC). Mengapa ada negara yang menderita begitu parah tetapi ada juga negara yang tak tertular krisis? Mari simak bersama..

Kamis, 17 November 2011

Krisis Peso di Meksiko 1994


Di awal tahun 1990-an, Meksiko adalah negara dengan perekonomian yang sedang tumbuh dengan cukup baik. Hasil ekspor sektor manufakturnya menyumbang hingga lebih dari dua per tiga total devisa Meksiko. Nilai impor Meksiko meningkat tajam seiring adanya liberalisasi perdagangan dari US$11 miliar pada 1987 menjadi US$48 miliar di tahun 1992. Tahun 1991 tercatat ada sekitar 137 ribu perusahaan manufaktur yang beroperasi di Meksiko. Sektor manufaktur tumbuh pesat di Meksiko karena besarnya jumlah sumber daya manusia terampil di sana, besarnya pangsa pasar konsumsi, serta rendahnya biaya distribusi. Namun, pada bulan Desember 1994 terjadi devaluasi terhadap nilai tukar peso secara tiba-tiba, dan dimulailah krisis ekonomi Meksiko yang dikenal dengan istilah Krisis Peso Meksiko. Krisis terparah sepanjang sejarah Meksiko itu mengakibatkan lebih dari 50% penduduknya jatuh ke jurang kemiskinan. Apa yang menjadi penyebab krisis ekonomi di Meksiko tahun 90-an tersebut?
Cekidot Gan..

Minggu, 09 Oktober 2011

Black Monday 1987

Pada 14 hingga 19 Oktober 1987, indeks harga saham gabungan di bursa Amerika Serikat (AS) jatuh hingga melampaui angka 30%. Senin, 19 Oktober 1987 menjadi puncak kejatuhan pasar saham AS, hari itu kemudian dikenal dengan istilah Black Monday. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) nyemplung hingga 508 poin, hingga lenyaplah 22,6% dari total nilainya. Sementara itu, indeks S&P 500 juga terjun dari 282,7 menjadi 225,06 poin (20.4%). Itulah gambaran salah satu peristiwa kejatuhan terbesar yang pernah diderita Wall Street hanya dalam satu hari saja. Banyak pihak yang mengemukakan asumsinya mengenai kejatuhan tersebut. Ada yang bilang crash itu terjadi karena penggunaan robot dalam transaksi perdagangan (dahulu istilahnya program trading atau computer trading), adanya perdagangan produk derivatif, penaksiran harga dan nilai yang berlebihan (overvaluation), hilangnya likuiditas, dan ada pula yang menganggap peristiwa itu terjadi karena psikologi pasar. Lalu, manakah pendapat yang benar?

Jumat, 30 September 2011

Great Depression 1929

Sebelum terjadi Great Depression 1929, selama tahun 1920-an rakyat Amerika Serikat  sangat menikmati hidup sejahtera, berkecukupan, dan masa depan AS pun tampak cerah secerah sinar mentari pagi.  Rasa takut semasa Perang Dunia I berkecamuk telah berlalu dan hari-hari bahagia menanti di masa depan. Kondisi aman tentram adem ayem itu membuat AS menjadi negara yang sangat optimis. AS mulai mengembangkan industri manufakturnya. Dampaknya terhadap masyarakat, pola konsumsi yang berlebihan secara permanen mengubah wajah budaya masyarakat. Produksi barang-barang mewah meningkat. Kulkas, telepon, mobil- semua barang yang diinginkan oleh mayoritas warga AS seringkali dibeli secara kredit (ingat bagian yang ini, sengaja saya tebalkan agar Anda ingat saat saya beri penjelasan di akhir tulisan ini). Pada saat itu, pembelian secara kredit merupakan konsep baru. Sebelumnya rakyat AS lebih memilih membeli barang secara tunai.

Rabu, 28 September 2011

Panic of 1907

Kali ini kita akan melihat kembali peristiwa krisis keuangan yang terjadi pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Peristiwa itu dikenal dengan istilah Panic of 1907, yakni krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat di mana bursa saham jatuh hingga mencapai angka 50% dari puncak tahun 1906. Kepanikan ini bermula dari kegagalan Otto Heinze untuk menggoreng (cornering) saham United Copper pada 17 Oktober 1907 yang menyebabkan Otto Heinze tidak dapat membayar utang-utangnya. Kegagalan ini menyebabkan bank tempat Otto Heinze menjaminkan saham United Copper yang dimilikinya, State Savings Bank of Butte Montana mengumumkan kebangkrutannya. Bank Montana ini adalah milik F. Augustus Heinze, saudaranya Otto. Kepanikan segera menular ke Mercantile Bank karena bank ini merupakan bank korespondensi dari Bank Montana.

Senin, 02 Mei 2011

South Sea Bubble 1720

Abad ke-18 adalah masa kejayaan Inggris Raya. Pada abad ini, Inggris Raya merupakan negara besar yang koloninya tersebar di seluruh penjuru dunia. Kejayaan dan kemakmuran itu ibarat gadis cantik yang memikat semua pria untuk melakukan apa saja demi mendapatkan cinta sang gadis. Kemakmuran telah memancing Pemerintah Inggris untuk melakukan apa pun. Mereka menjadi pendukung ideologi 3H, “Halal, Haram, Hantam”. Termasuk berutang. Pemerintah Inggris berani berutang karena yakin kemakmuran itu akan langgeng sehingga nekat berutang dalam jumlah besar tanpa memperhitungkan risiko. Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Inggris nekat ngutang alias minjam duit ke South Sea Company (SSC), perusahaan di Inggris yang bergerak di bidang perdagangan budak. Komoditas utama perusahaan ini adalah budak yang diimpor dari Afrika Barat dan kemudian dijual ke Amerika Selatan. Adakah dampak buruk mental dan perilaku ngutang pemerintah Inggris ini terhadap perekonomian masyarakatnya?

Minggu, 03 April 2011

Tulip Mania 1637

Alphard hitam kinclong yang masih gres itu baru saja berhenti di halaman rumah Opa Pandjaitan. Opa sudah tau kalau yang akan turun dari mobil itu adalah kedua cucu kesayangannya: Jack dan Rasya, sebab malam kemarin Jack mengirim pesan singkat ke hape Opa, "Opa, besok jam 3 sore Kami maen ksana."
Setelah turun dari mobil, Jack dan Rasya langsung berjalan ke arah Opa berdiri dan mencium tangan Opa.

"Apa kabar Opa? Lama ga maen ke sini jadi kangen sama Opa," sapa Rasya dengan hangat.

"Iya, Opa juga kangen sama kalian," kata Opa sambil memberikan senyuman khasnya.

"Opa cerita lagi dong, kami sudah ga sabar ingin dengar cerita pengalaman Opa," pinta Jack dengan muka sedikit memelas.