Google
 

Rabu, 19 Januari 2011

Hilang Potensi Keuntungan

Hujan masih turun sangat deras. Petir yang menggelegar semakin membuat suasana siang itu tambah suram. Sempat terlintas dalam pikiran Bimo untuk menunda saja rencana pertemuannya dengan Pak Bukhori. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan, sebab besok beliau akan kembali ke Muaro Bungo. Tak sabar menanti hujan reda, Bimo pun mengenakan jas hujan biru yang baru dibelinya minggu lalu, dan menyalakan sepeda motor butut kesayangannya.

“Brrrmmmm…”, Bimo berangkat melesat menembus hujan dan angin kencang demi menepati janjinya.

Tiba di parkiran hotel, Bimo segera melepas jas hujannya yang basah dan mengunci cakram depan dengan gembok khusus cakram sepeda motor.

“Alhamdulillah, 30 menit perjalanan, sekarang aku sampai dengan selamat,” syukur Bimo dalam hati.


Dari parkiran, Bimo naik lift menuju lobi Hotel Abadi. Tak banyak orang berseliweran lalu-lalang di Lobi. Bimo duduk di sofa empuk berwarna coklat muda. Tak jauh di depannya ada pintu lift.

Sesaat kemudian, muncullah sosok pria paruh baya yang berpenampilan sederhana dengan senyum tipis yang elegan, memperkuat karakter pribadinya yang berwibawa dan kharismatik. Tak banyak orang yang tahu, di balik kesederhanaan penampilannya itu sebenarnya ia adalah seorang konglomerat kelas kakap, milyarder pemilik 70 ribu hektar kebun sawit yang tersebar di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Tak cuma memiliki tiga perusahaan yang bergerak di sektor agrobisnis, ia juga pemegang saham beberapa perusahaan hi-tech, restoran terkemuka di Jakarta dan Surabaya, serta pemilik Yayasan Hikmah Darul Islam yang menyokong biaya pendidikan lima ribu delapan ratus anak yatim dan duafa. Dialah Pak Bukhori. Orang yang sudah dinanti Bimo sejak tadi.

“Assalamualikum, apa kabar Pak?” sapa Bimo dengan hangat.

       “Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik, sudah lama nunggu Bim?” jawab Pak Bukhori seraya menjabat tangan Bimo dengan erat.

“Baru sebentar kok Pak, belum lima menit. Bagaimana perkembangan bisnis Bapak? Lancar?”.

      “Alhamdulillah. Sekarang saya bersama tim sedang mengembangkan teknologi pemanfaatan tankos.”

“Tankos?? Apa itu Pak??” tanya Bimo dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

      “Tandan kosong. Itu loh, kalau kamu ambil buah kelapa sawit, bagian tempat menempelnya buah itu disebut tandan, dibilang tandan kosong karena sudah tidak ada lagi buah sawitnya.” jelas Pak Bukhori.

“Ouw, itu ya, trus kenapa dengan tankos itu Pak?” tanya Bimo lagi.

     “Selama ini, setelah pohon sawit tidak produktif lagi, tankos itu dibuang alias tidak dimanfaatkan, padahal tankos itu kaya dengan cellulose dan kandungan karbohidrat dalam cellulose itu tinggi sekali.”

“Lalu bagaimana cara mengekstrak cellulose yang berdinding tebal dan mengambil karbohidratnya Pak?

     “Nah, kalau yang itu, kami sudah punya teknologinya, cuma sekarang masih jadi rahasia perusahaan, nanti pada saatnya akan saya ceritakan.”

“Apa yang bisa dimanfaatkan dari ekstraksi tankos itu Pak?”

    “Perusahaan saya membuat tankos berbentuk bubuk. Bubuk tankos yang kaya karbohidrat itu kami suplai khusus bagi para peternak ayam di beberapa wilayah untuk digunakan sebagai pakan ternak. Jadi, para peternak ayam kita tidak lagi tergantung pada pakan ternak impor.”

“Wah, bagus sekali itu Pak, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”gumam Bimo .
    “Ya, Alhamdulillah, Alloh SWT masih meridhoi usaha saya.”

“Pernah ga Bapak mengalami kegagalan dalam bisnis?”

    “Pernah donk, dan ada satu peristiwa yang benar-benar sulit untuk saya lupakan”.

“Apa itu Pak?” tanya Bimo yang makin penasaran.

    “Tahun 1997, waktu itu kamu masih SD kali ya? Saya membangun tempat penampungan minyak sementara dari kapal. Jadi minyak yang akan didistribusikan ke wilayah tertentu setelah turun dari kapal, disimpan terlebih dahulu di tempat itu. Perusahaan saya sudah membuat kesepakatan dengan Pertamina, tetapi karena krismon, kontrak itu batal. Saya kehilangan potensi keuntungan sebesar lebih dari US$ 5 juta. Coba kamu bayangkan, duit sebanyak itu bisa kita buat jadi apa saja? Kalo kita depositokan saja bunganya sudah berapa? Gimana kalau saya putar dalam bentuk bisnis lagi? Dengan uang US$ 5 juta, berapa banyak rumah sakit yang bisa kita bangun untuk kaum dhuafa? Berapa banyak yatim yang bisa kita berikan beasiswa, berapa janda miskin yang bisa kita santuni? Berapa banyak fakir yang bisa kita tingkatkan taraf hidupnya?” cerita Pak Bukhori.
 

Meski Pak Bukhori tak bercerita tentang perasaannya, Bimo bisa menangkap kesan yang terpancar dari raut wajah beliau. Pak Bukhori jelas tampak sangat terpukul dengan adanya musibah krismon. Terpukul bukan hanya karena proyeknya yang gagal, tapi lebih dari itu, krismon telah membuat Pak Bukhori kehilangan potensi besar untuk memberdayakan umat.

Pertemuan Bimo dengan Pak Bukhori siang itu sungguh sangat berarti. Bimo kini memahami betapa bahayanya sebuah krisis finansial dan betapa destruktif dampaknya terhadap hajat orang banyak. Kehilangan potensi keuntungan, itulah salah satu dampak mengerikan krisis finansial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar